Jejak Sukses Indonesia : Impianku untuk Indonesia I

Jejak Sukses Indonesia merupakan cita cita saya "Muhamad Arifin" sebuah lembaga pendidikan berupa yayasan, sekolah, dan lembaga training indoor dan outdoor untuk meningkatkan moral dan kesantunan generasi bangsa sesuai dengan tatanan nasional bangsa Indnesia.

Jejak Sukses Indonesia merupakan cita cita saya “Muhamad Arifin” sebuah lembaga pendidikan berupa yayasan, sekolah, dan lembaga training indoor dan outdoor untuk meningkatkan moral dan kesantunan generasi bangsa sesuai dengan tatanan nasional bangsa Indnesia.

Memang butuh keberanian dalam meletakkan setinggi apa impian kita. Setinggi apa pun impian kita, kita letakkan, asal kita bisa menyusun tangga naik menuju ke atasnya, berusaha sekuat dan sekeras mungkin untuk menggapainya, pasti kemudahan yang sudah Tuhan sediakan akan dapat kita temukan.

Tuhan sudah menyediakan kemudahan-kemudahan untuk kita menggapai segala apa yang kita cita-citakan dan impikan. Hanya mungkin kita yang belum merasakannya, belum menemukannya, karena kita belum berusaha mencari dan menemukannya.

Hidup ini sederhana, indah, dan mudah karena penciptanya adalah Tuhan yang Maha Mencintai Kesederhanaan, Maha Indah, dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bangga Indonesia!

Cita-cita dan impianku, membuat Jejak Sukses Indonesia, jika Tuhan menghendaki, maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Maka kepyakinanku akan tetap, bahwa suatu hari nanti impian ini akan terwujud sempurna, bahkan sekarang aku dalam proses penyusunan tangga-tangga untuk menggapainya.

 

J S M. Arifin
HP : 085236218116/083811095444
Muhamad.arifin@consultant.com

Iklan
Dipublikasi di Pemikiranku | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

MIND POWER :Into The 21st Century

Buku Bacaan Muhamad Arifin Jember ATOM Indonesia Mind Power _ Into The 21st CenturyFersi Asli

Penulis        : John Kehoe

Terbitan     : Zoetic Inc, Kanada : 2009

Terjemahan Indonesia

Penerjemah   : Aisyah

Terbitan         : PT. Serambi Ilmu Semesta

Harga              : Sekitar Rp 60.000,-

Buku ini sangat nyaman dan membimbing bagi siapapun yang ingin meningkatkan kekuatan pikirannya. Secara gamblang namun mudah dipahami, John Kehoe memaparkan mengenai aktifasi kekuatan pikiran yang tiada batas. Bukan hanya menceritakan teori atau praktek saja, dalam buku ini disajikan berbagai cerita luar biasa dari tokoh-tokoh ternama, seperti Arnold Achwarzenegger, Hillary Clinton, Larry King, dan Bill Gates.

Tersedia banyak pemahaman baru secara komplit dalam buku ini mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan pikiran. Mulai dari bagaimana pikiran itu mempunyai kekuatan untuk menjadikan suatu realitas, Afirmasi, Mimpi, Kontemplasi, dan Konsentrasi, Citra Diri, Kreatifitas, Penyembuhan Diri, sampai kepada Bagaimana Menciptakan Hubungan Yang Harmonis. Buku ini menyediakan tahapan-tahapan yang mudah dipraktekkan pada setiap bagian-bagian penggunaan kekuatan pikiran. Hal ini memudahkan pembaca untuk langsung melakukannya, sesaat setelah membaca pun bisa langsung dicoba.

Tersedia banyak kutipan-kutipan penggugah jiwa dalam buku ini yang diambil dari tokoh-tokoh hebat dunia. Salah satu kutipan favorit saya yang ada dalam buku ini adalah “Setiap hari, dengan setiap cara, aku menjadi lebih baik, dan lebih baik.” yang digunakan oleh Emile Coue untuk menyembuhkan banyak pasiennya.

Buku ini saya sangat sarankan bagi Anda yang ingin mempunyai pemahaman baru tentang pemikiran-pemikiran kita yang ternyata tanpa kita sadari telah banyak menghambat kita untuk mencapai kesuksesan.

“Sukses dalam kenyataan, tak kan bisa dimulai jika kita tak pernah sukses dalam pemikiran” (Muhamad Arifin)

muhamad.arifin@consultant.com
085236218116

Dipublikasi di Karyaku, Pemikiranku, pengetahuan, Resensi Buku | Meninggalkan komentar

Surat Untuk Ibu dan Bapak

Untuk Ibu dan Bapak,
Dua Insan yang selalu ada di hati,
Yang tak pernah lepas dari pikiran,
Menjadi cambuk panas saat diri ini khilaf,
Menjadi pengiring kebanggan membayang,
Menjadi obat penenang saat diri ini dilanda kegamangan,
dan menjadi pendobrak batas dari segala kekurangan.

 

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Ibu dan Bapak-ku yang semoga Allah selalu memberi perlindungan kepada kalian. Ini hanya sebuah surat Bu, Pak. Sebuah surat yang  sebenarnya telah dari dulu tercatat pasti dalam hati, yang sebenarnya Ibu dan Bapak pun mungkin sudah mengetahuinya, atau sekedar mengharapkannya. Ibu, Bapak, karna itu saat ingin menulis surat ini, anakmu ini merasa ragu, ingin rasanya lebih baik ku utarakan langsung saja saat ngobrol santai bersama Ibu dan Bapak. Namun rasanya, lidah ini tak kan sanggup bergerak untuk menyampaikan semuanya. Yaa, semoga saja, walau surat ini tak pernah ku kirimkan kepada Ibu dan Bapak, semoga Allah mendengarkan curahan hati seorang anak ini, semoga saja Allah memberikan jalan kepada setiap niatan baik yang tertulis dalam surat ini, mengarahkan dan membimbingku hingga niatan itu tak hanya berupa niatan saja, tapi dapat terlaksana. Dan semoga saja surat ini diberkahi dan memiliki daya dan kekuatan Doa hingga ini akan menjadi perantara antara kita, anakmu ini, dan Ibu serta Bapak, juga keluarga yang lain.

Ibu, Bapak, aku pun masih bingung harus memulai dari mana surat ini, yang rasanya akan panjang dan berlembar-lembar andai ku tulis dalam selembar kertas. Aku masih ingat dengan kisah waktu ku kecil dulu. Anak mu ini adalah anak yang sangat cengeng yang tak bisa kalian tinggalkan. Sebentar saja Ibu, Bapak meninggalkanku, maka pasti anakmu ini akan merepotkan setiap orang terdekat karena kerasnya tangisan anakmu ini, hingga salah satu di antara kalian mendekatiku, menampakkan wajah, dan memeluk memenenangkanku. Ibu, Bapak, mungkin Ibu, Bapk bertanya. Kenapa anakmu yang dulu cengeng ini malah membuat Ibu, Bapak menangis saat mengantarkan ku berangkat kuliah jauh ke IPB pada 28 Juni 2009 lalu? Aku juga ingat Bu, Pak, 3 waktu saat aku ingin sekolah SD, SMP, dan SMA. Saat aku meminta di sekolahkan di sekolah favorit yang letaknya jauh dari rumah, dengan lemah lembut Bapak, Ibu meminta ku untuk sekolah di tempat yang dekat saja. Aku merasakan kekhawatiran Ibu dan Bapak, baik dalam keamananku, keunggulanku, juga dalam kesanggupan kalian dalam memenuhi kebutuhanku akan uang jika aku bersekolah di sekolah favorit. Ibu, Bapak aku benar benar masih ingat kata-kata kalian, “Sekolah di sekolah yang dekat saja Nak. Ibu dan Bapak akan penuhi apa yang kamu minta, kalau memang ada syarat agar Kamu mau sekolah di tempat yang dekat saja.”. Bahkan saat aku lulus dari SMP, saat aku sudah mengnal ke-egoisan remaja, Ibu Bapak minta bantuan pada guru wakil kepala sekolahku untuk membujukku. Aku pun sempat membantah dan menolak, namun, aku sangat bersyukur aku akhirnya menuruti nasehat Pak Bagio yang saat itu menjadi Waka SMPN Sumberjambe 1. Aku pun masih ingat benar nasehat beliau, “Bapak hanya bisa memberi saran Fin. Pilihlah sekolah yang terdekat saja. Jangan fikirkan kualitas sekolah Nak. Andai kamu sekolah di Kota, belum tentu kamu bisa bersaing dengan mereka. Kamu mungkin terbaik di sini, tapi banyak juga anak-anak terbaik di sekolah Favorit itu. Sainganmu akan banyak. Peluangmu untuk unggul akan lebih banyak di SMAN Kalisat. Berusahalah menjadi yang terbaik di sana. Kejarlah beasiswa di sana. Bantulah orang tua mu. Andai kamu bersekolah di sekolah favorit itu, orang tua mu pun harus bekerja ekstra untuk mencukupi keuanganmu di sana. Difikirkan saja dulu.”. Aku ingin menangis Bu, Pak kalau ingat saat-saat itu. Saat aku masih menjadi anak kecil, saat masih dekat dengan Ibu dan Bapak. Menjadi anakyang selalu dipenuhi kasih sayang, pelukan, nasehat-nasehat, dan senyuman ke dua orang tua.

Sekarang, anakmu ini sedang jauh tapi bukan meninggalkan mu Ibu, Bapak. Anak mu ini sedang melakukan perjalanan yang sebenarnya titik akhirnya dekat dengan mu Ibu Bapak. Jarak sedang memisahkan kita Bu, Pak. Tapi semoga hati ini selalu terpaut di dalam jalinan keluara yag tak kan pernah terputus. Sungguh, fikirannku ini lebih sering memikirkan keadaan Ibu dan Bapak. Tanggung jawab besar menjadi seorang anak yang telah menghabiskan banyak keringat dan air mata dari mu Ibu, Bapak. Suatu hal yang merat pula menjadi seorang kakak dari seorang perempuan yang selalu melihat kakanya untuk berbuat sesuatu, meniru, mencontoh, dan meneladani.

Ibu, Bapak, sering orang bertanya, setelah kuliah aku akan melanjutkan kemana. Kebanyakan dari mereka bilang, “Kalau bisa jangan kembali ke rumah, mau jadi apa kamu kalau sudah jauh-jauh kuliah, eh.. malah pulang.! Cari aja kerja di situ, cari uang yang banyak, biar orang tuamu bangga.” Bagiku Ibu, Bapak, kalimat itu hanya pendapat yang harus didengar tapi tak ada kewajiban untuk melaksanakannya. Masih terbayang wajah Ibu dan Bapak saat kita sedang berbincang-bincang dan mendengar pendapat itu dari salah seorang tetangga kita. Wajah yang benar-banar tak ikhlas anaknya pergi lebih lama dan lebih jauh lagi. Mata Ibu dan Bapak waktu itu menyiratkan kesedihan yang mengharuskan Iibu dan Bapak diam dan mendengar saja. Ibu, Bapak, tenanglah. Tak ada niatan dalam hati ini untuk meninggalkan Ibu dan Bapak lebih jauh dari ini. Anakmu ini tetap Arifin yang dulu. Seorang anak yang cengeng, yang tak bisa jauh dari Ibu, Bapak, yang punya keinginan untuk terus bersama kalian sampai ajal menjemputku suatu saat nanti.

Ibu, Bapak. Aku bangga menjadi anakmu. Anak seorang pasangan petani yang selalu hidup sederhana dan selalu penuh dengan ajaran-ajaran tentang hidupn yang mapan. Aku bangga menjadi anakmu Ibu. Sosok ibu yang penuh dengan ketelitian, kelemahlembutan, dan rasa kekeluargaan yang selalu mendamaikan hati. Kasih sayangmu telah membentukku Bu, menjadi laki-laki yang lemah, terhadap kesakitan insan lain, ketidak adilan, dan penindasan. Aku pun bangga menjadi anak mu Bapak. Tokoh ayah yang penuh tanggung jawab, tak kenal lelah, bijaksana dalam setiap ketegasan, pendiam namun menghanyutkan. Sifat-sifatmu benar-benar mempengaruhiku Pak, terdiam dalam pemikiran-pemikiran yang siap diledakkan dengan tegas dan bijak diwaktu-waktu yang dibutuhkan. Karena Ibu dan Bapak lah, sekarang anakmu ini berani bermimpi akan banyak hal yang mungkin tak pantas dibayangkan oleh seorang pemuda yang dilahirkan di desa terpencil seperti Desa Randu Agung (Randuagung) tempatku dilahirkan. Sekarang anakmu ini Bu, Pak, sedang berusaha, sedang berjuang untuk menjadi apa yang Ibu dan Bapak harapkan. Membanggakan Ibu dan Bapak sesuai dengan apa yang Ibu dan Bapak inginkan.

Ibu, Bapak, sekarang anak mu ini dikenal dengan sebutan “aktivis”. Entah apa arti kata itu BU, Pak. Jangan tanyakan padaku. Aku pun tak lebih memahaminya di banding sebuah kamus yang sudah tercetak lama. Memang, Bu, Pak, aku sekarang punya beberapa kegiatan yang haus aku lakukan di setiap hari yang aku lalui. Memang Bu, Pak, semuanya aku tulis di dalam beberapa buku dan lembar kertas untuk mengingatkan aku apa saja yang harus aku lakukan. Bukankah anakmu ini memang pelupa Bu? Bukankan anakmu ini sering kali lalai Pak? Dulu masih ada Ibu dan Bapak yang selalu mengingatkanku untuk makan, belajar, ibadah, bahkan kegiatan lain. Ibu dan Bapak rasanya lebih tau dari pada diriku sendiri. Sekarang kita sedang tak bersama, aku butuh cara lain untuk mengagendakan semuanya Bu, Pak. Meski itu sama sekali tak bisa menggantikan Ibu, dan Bapak.  Tapi, aku senang, setiap di telfon selalu menanyakan ku, “Kamu sudah makan nak? Sudah belajar? Gimana kegiatan hari ini?”. Itu menyenangkan dan menenangkan Bu. Perhatianmu meluluhkan kecapeaan dan keletihan hari-hari seorang “aktivis peradaban”.

Bu, Pak, aku harap Ibu dan Bapak tidak sedang mempertanyakan dimana rumahku kelak akan ku bangun. Bukankah dulu kita sudah pernah membicarakannya? Bukankah dulu kita sudah saling menjanjikan. “Bu, seandainya Ibu punya uang berlebih, beli tanah di samping rumah kita ini ya Bu. Kalau tidak ada kesempatan untuk itu, Ibu dan Bapak tenang saja. Biarkan aku yang membelinya sendiri. Yang penting sampai hari itu tiba, pastikan tanah di samping rumah kita ini tak terjual kepada siapa pun.” Disanalah Bu, Pak, aku akan membangun rumahku. Aku tak ingin berada lebih jauh lagi Bu. Aku tak ingin hanya setengah dari umur Ibu dan Bapak yang dihabiskan untukku. Aku ingin, seumur hidup kita bisa menghabiskan waktu bersama. Aku ingin di saat-saat terakhir hidupku, ada didekat Ibu dan Bapak. Dan rasanya itu pula yang Ibu dan Bapak Inginkan. Iya kan Bu? Iya kan Pak? Sekarang Bu, Pak, aku sudah membuat denah bagaimana dan dimana rumahku akan di bangun di tanah itu. Aku sudah merencanakannya Bu. Aku sudah mempersiapkannya Pak. Bukan hanya tanah di samping rumah kita. Beberapa tanah yang lain di sekitarnya akan aku beli. Akan aku berdayakan tanah itu menjadi tempat Wisata Pertanian Terpadu, dimana di sana ada Pengelolaan Sistem Pertanian Percontohan, ada tempat bermainnya juga Bu, ada tempat outbound – karena itulah usahaku sekarang-, ada juga sekolah yang aku didirikan. Khusus untuk membangun pendidikan di daerah kita, yang akan mempunyai nilai lebih berupa pendidikan kharakter dan keagamaan Bu, Pak. Itulah rencana anakmu ini. Dirumah kita itu kita akan selalu bersama. Adek yang sekarang katanya ingin jadi dokter, kalau bisa juga ndak jauh dari situ kerjanya Bu. Biar kita satu keluarga lengkap. Pasti menyenangkan. Aku ingin kebermanfaatan yang aku kejar bisa menjadi amal jariyah yang tertuju kepada Ibu dan Bapak kelak.

Bu, Pak, semoga ikatan batin kita selalu terjaga sampai ajal memisahkannya. Sampai waktu itu tiba, aku akan terus berusaha menyenangkan hati Bapak dan Ibu. Di sini, anakmu ini sedang berjuang Bu, Pak. Doakanlah anakmu ini selalu. Walau pun tanpa aku minta pastinya Ibu dan Bapak akan melakukannya. Ibu, Bapak, hati ini benar-benar memahami, betapa Ibu dan Bapak mengkhawatirkan aku. Setiap di telfon, pasti tak lupa Ibu dan Bapak menanyakannya. Saat yang mengangkat telfonku adalah ibu, pasti Ibu menanyakan sudah makankah aku, bagaimana kabarku, dll sebagainya, saat telfonku beralih tangan ke Bapak, bapak pun mengulangi pertanyaan pertanyaan itu, padahal aku tahu, sejak pertama Ibu mengangka telfonku, Bapak sudah ada di samping Ibu dan mendengar betapa baiknya kabar anakmu ini. Iya kan Bu? Aku mendengar langkah kaki Bapak saat telfonku baru diangkat. Betapa khawatirnya Ibu dan Bapak. Ya aku mungin tak bisa benar-benar memahaminya, tapi aku bisa mengerti Bu, Pak. Ketahuilah bahwa anakmu ini Bu, Pak, disetiap saat yang sama juga mengalami penyiksaan kekhawatiran hati itu. Aku pun sama Bu, Pak. Sangat mengkawatirkan keadaan Ibu dan Bapak di sana. Semua orang yang selalu mendukungku dari jauh di sana, aku begitu mengkhawatirkan semuanya. Karena itu pula lah aku pun selalu bertanya keadaan tiap tiap semuanya. Terutama Ibu dan Bapak, adek, kakek dan nenek juga. Ibu, Bapak, sedih rasanya ketika aku merasakan ada hal yang Ibu dan Bapak ttutupi saat aku bertanya kabar. Aku merasakannya, saat getaran suara Ibu sedang melemah, saat itulah Ibu sedang sakit. Saat jawaban Bapak tak selancar biasanya, saat itulah Bapak sedang tak sesehat biasanya. Tapi betapa sedihnya Bu, Pak, di saat seperti Ibu dan Bapak masih berusaha membahagiakanku, “Ibu dan Bapak baik-baik saja Nak. Sehat wal afiat.” Lantangmu. Dan aku pun hanya bisa menjawab,”Baguslah kalau begitu Bu, Pak. Aku pun sama, Sehat dan Baik.” Aku berharap semoga jawaban itu bisa menenangkan dan membawa kesehatan serta kekuatan kepada Ibu dan Bapak.

Ibu dan Bapak yang terlanjur banyak menghabiskan waktu dan tenanga untukku. Pastinya, sampai kapan pun, aku tak bisa memlas semua kebaikan mu yang mungkin Ibu dan Bapak sendiri tak sadar telah melimpahkan begitu banyak kepadaku. Bu, Pak, suatu saat nanti kita akan melaksanakan Ibadah Haji bersama-sama. Menikmati saat paling dekat dengan Allah. Semoga Allah merestuinya. Bu, Pak, suatu saat kita akan melihat Vira, adekku dan anak kedua Ibu dan Bapak, akan menjadi orang sukses, lebih sukses dari aku tentunya. Aku akan berusaha untuk itu Bu. Semoga Allah memberikan jalan-Nya.

Jika aku tuliskan semua curahan pikiranku, rasanya tak bisa aku tak sanggup menyuruh dan memerintahkan jari-jari ini untuk terus bergerak mengetikkan huruf-huruf luapan hati. Dan aku sadar betapa pun aku ungkapkan semuanya, pasti apa yang ada dalah hati Ibu dan Bapak jauh lebih banyak dan lebih berarti dari itu. Biarlah Bu, Pak. Aku menceritakan persaanku dengan bentuk lain. Dengan usaha tiada henti sampai sampai di titik akhir nanti, saat kita sekeluarga akan bersama kembali.

Tunggu aku kembali Bu, Pak. Terimakasih atas segala yang telah ibu dan Bapak upayakan untukku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya Bu, Pak. Segala hasil dari semua usaha ini akan menjawab semuanya.

Semoga Allah merestui semua ini Bu, Pak. Semoga keberkahan selalu mengiringi jalan cinta ini, jalan cinta seorang anak kepada kedua orangtuanya. Saat aku kembali nanti, izinkan aku bersimpuh kepada Ibu dan Bapk, meminta maaf telah lancang memilih tempat yang jauh dari Ibu, dan Bapak.

Semoga Allah selalu memperhatikan Ibu dan Bapak, menyayangi dan mengasihi Ibu dan Bapak, sebagaimana telah Ibu dan Bapak berikan sepenuhnya saat aku masih kecil. Aamiin.

Salam hormat dan penuh kasih dariku Bu, Pak.

 

 

Bogor, 4 Januari 2012

Muhamad Arifin

Anakmu yang ada di rantau

 

 

 

 

* sebuah Surat yang Tak Terkirim// Pesan Dinding // Muhamad Arifin// muhamad.arifin@consultant.com

Dipublikasi di Karyaku, Kisahku, Mahasiswa, Pemikiranku, Update Status FB | 2 Komentar

Hati-hati Dicintai Karena Allah

Patut direnungkan,
“Dan berhati-hatilah jika ada yang mencitaimu karena Allah”
“Padahal engkau di murkai oleh-Nya.”

Betapa senangnya hati ini jika ada yang mencintai kita,
entah dengan alasan apa pun,
karena mata kita,
karena kebaikan kita,
karena tutur lembut kita,
apa lagi karena cinta yang tulus,
yaitu cinta karena Allah.
maka berbunga-bungalah hati ini,
serasa menjadi burung yang dapat terbang mengangkasa,
dan tanpa berfikir panjang,
mengepakkan sayap dan melayang.

Kenyataannya, tidak sesederhana itu,
Sekarang, mari lakukan,
Melihat kepada diri sendiri,
Pantaskah kita dicintai semurni itu,
Beratlah sudah tanggung jawab cinta karena Allah.

Sudahkah ibadah kita tak terlalaikan segaja atau tidak?
Saya sendiri masih jauh dan berusaha untuk itu.
Sudahkah keluhuran hati kita menunjukkan keluhuran agama,
Sehingga alasan agama bisa menempel pada diri kita,
Saya sendiri masih baru beranjak dari tidur panjang untuk itu,

Masih banyak hal yang harus dilakukan,
untuk memantaskan diri,
menjadikan diri ini berhak mendapatkan kemuliaan,
dicintai karena Allah,

sementara diri ini terus berjuang,
hati ini akan terus berhati-hati,
dengan sanjuangan hamba Allah,
yang masih belum pantas tersandingkan.

Muhamad Arifin
muhamad.arifin@consuant.com

Dipublikasi di Karyaku, Pemikiranku, Tarbiyah, Update Status FB | Meninggalkan komentar

Muhamad Arifin @ ATOM Indonesia

Muhamad Arifin Randuagung Sumber Jambe Jember IPB Himagreto Geofisika dan Meteorologi SMAN Kalisat Atom Indonesia Trainer indoor and outdoor Life Skills Development Program

Muhamad Arifin Trainer and Fasilitator Atom Indonesia

 

Adalah salah satu cita-cita menjadi seorang trainer dan motivator yang bisa membagi kemampuan diri kepada orang lain dan menyalakan semangat orang lain dengan pemikiran-pemikiran dan kisah-kisah diri ini. Pernah terbayang di waktu silam “Muhamad Arifin Trainer dan Motivator Nomer 1 di Indonesia”. kala itu, keinginan timbul karena diri ini melihat sosok motivator yang karenanya pula diri ini menjadi selalu bersemangat dan tak kekeurangan alasan untuk berkembang. Ingin rasanya berbuat demikian kepada penerus-penerus bangsa. Walau tidak semua yang hadir dalam satu training semua akan berefek sama, namun pasti akan ada suatu perubahan dari apa yang sudah terucap dan terbagikan yang insyaAllah ikhlas dari hati.

Bayang-bayang sebuah cita-cita yang rasanya dulu sangat jauh dari diri ini. Pemuda dari pelosok desa nan jauh di Jawa Timur sana, Sebuah desa yang terletak di Kabupat Jember, di sebuah kecamatan di kaki Gunung Raung, di Desa Randu Agung (Randuagung) tepatnya. Sangat jauh dan sangat pelosok di banding tempat yang sekarang di diami, Kampus IPB Darmaga, Bogor, Jawa Barat. Namun, itu bukan alasan, keberanian memimpikan itu tetap selalu diri pertahankan. Doa pun terus selalu terpanjatkan. Dan sungguh Tuhan Maha Pemberi.

Salah satu cita-cita itu terwujudkan. Sekarang pemuda desa ini, sembari melaksanakan Program S1 di Departemen Geofisika dan Meteorologi dengan Mayor Meteorologinya dan Himpunan Profesi Agrometeorologi (Himagreto) nya, diri ini bisa menjadi Trainer dan Fasilitator di salah satu lembaga training ATOM Indonesia. Sebuah Lembaga Training yang membawa tagline sebagai Soft Skill Development Training Center.

Alhamdulillah. Salah satu impian tercapai. Rasa syukur akan terus mewarnai hari-hari ini karena Allah yang Maha Berkehwendak, Maha Penyayang, dan Maha Baik Atas Segala Sesuatu. Semua tak akan tersia-siakan. Walau sempat diri ini melakukan kekhilafan, namun itu selalu terupayakan untuk diperangi hingga tak terulang lagi.

Bersyukur dan berjuang menjadi mukmin yang beruntung.

 

 

Muhamad Arifin

085236218116

muhamad.arifin@consultant.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Terucap dari lisanmu, “gak semangat ni, gak punya pasangan sih!!!”

untuk yang lebih bergairah pemikirannya dari diri ini.
Terucap dari lisanmu, “gak semangat ni, gak punya pasangan sih!!!”

Waktu akan mengajarkan kita,
bahwa sebenar-benarnya semangat ada dalam diri ini,
semangat yang hakiki,
yang tak butuh alasan untuk membara,
yang tak butuh orang lain untuk melsatkan kita.

Sungguh terkadang kita salah kaprah,
mengkambing hitamkan keadaan,
atas kekurangan dan sisi gelap diri sendiri.
Menjadikan ketiadaan pasangan sebagai alasan,
menjadikan hadiah sebagai suatu keharusan,
menjadikan hal lain sebagai intimidasi,
keterbatasan diri.

Sungguh,
bahwa sebenar-benarnya semangat ada dalam diri ini,
jadikan Tuhan sebagai satu-satunya alasan.
Maka itulah semangat yang hakiki.

hanya sebuah pemikiran.
Muhamad Arifin
muhamad.arifin@consultant.com

Dipublikasi di Karyaku, Kisahku, Pemikiranku, Tarbiyah, Update Status FB | Meninggalkan komentar

Cita cita itu

Untukmu Wahai sahabat,
Semua cita-cita yang pernah saling kita janjikan,
mari kembali lebih kita perjuangkan,
Semua kelalaian yang telah tak sengaja dilakukan,
biarkanlah menjadi pengalaman berharga,
untuk menyiapkan diri akan suatu masa,
dimana hidup akan lebih berat,
dimana usaha akan terasa lebih sulit,
saat itulah sebenarnya kita sudah berhasil meraihnya,
impian-impian menggunung di masa belia,
dan disaat itulah,
keadaan mengharuskan kita untuk mencari dan mengusahakan,
tentang impian yang lebih besar lagi.
yang lebih tinggi dan lebih besar dari hanya sekedar gunung.
Sampai di batas waktu itu,
wahai sahabat,
tetaplah bersamaku.
Bimbing dan bantu arahkan hati ini.
Bersama kita raih semua cita-cita yang pernah saling kita janjikan.

Muhamad Arifin
muhamad.arifin@consultant.com

Dipublikasi di Karyaku, Kisahku, Pemikiranku, Update Status FB | Meninggalkan komentar